Tentang Kami

Berawal dari semangat dan niat untuk mengaktualisasikan ilmu dan kemampuan yang dimiliki, Yayasan Lentera Khatulistiwa (YLK) dibangun pada tahun 2014. Pendidikan luar sekolah baik berupa pendidikan keagamaan maupun tim building menjadi starting point dalam berkarya.

Pendidikan baik untuk anak-anak, remaja dan dewasa tidak akan berjalan dengan baik, jika tidak terdapat kondisi lingkungan yang baik pula. Kondisi lingkungan ini adalah meliputi sekolah, institusi maupun pemerintahan. Oleh karena itu YLK juga memiliki concern terhadap pengelolaan institusi yang baik (good corporate governance maupun good public governance).

Selain itu, dikarenakan dalam GCG maupun GPG, implementasi CSR yang terintegrasi juga menjadi perhatian. Dengan kapabilitas kepedulian terhadap pendidikan, social, kesehatan dan lingkungan, YLK juga hadir untuk memberikan alternative-alternatif pengelolaan CSR bagi institusi.

Pegiat YLK :

1. Nuaim Badrul Kamal, Penanggungjawab Pelatihan Luar Sekolah

Lahir dari lingkungan guru, kemudian dibesarkan dalam lingkungan pesantren Assalam sampai dengan SMA, sekolah di UGM dan ITB dan juga S2 di Purde Jerman, membuat seorang Nuaim Badrul Kamal fasih berbahasa Arab, Inggris, dan Jerman. Kapabilitas kepengajarannya diasah terus sejak SMP sampai dengan kini, baik pengajaran lewat pesantren, les privat, maupun kelas-kelas training dan pelatihan.

2. Harini Agustina, Penanggungjawab Pendampingan Implementasi CSR

Kepedulian social dan pengetahuan tentang strategic manajemen didapatkan Harini Agustina lewat pembelajaran formal ketika sekolah, maupun pembelajaran praktis lewat aktivitasnya di dunia praktis pekerjaan maupun NGO (Btrust – Paramartha). S1 Teknik Industri ITB, S2 Manajemen Transportasi, S3 (manajemen strategic – belum selesai), Supply chain sertificate professional, penanganan GCG bersama KNKG membuatnya semakin kokoh memahami integrasi CSR dalam dunia usaha dan perekonomian.

3. Teti Hidayahti, Accounting Manager

Dengan background accountingnya, proses akuntansi YLK ditanganinya dengan baik